HADIAH PAHALA

بسم الله الرحمن الرحيم


Setiap orang Muslim yang baligh dan berakal apabila mengerjakan amal ibadah akan diberi pahala, apakah shalat, puasa, haji, zakat, sedekah, membantu orang yang kesusahan dan lain-lain yang semua itu dilakukan untuk mencari Rido Allah tantu Allah akan memberi pahala baginya.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Al-Zalzalah ayat 7 yang artinya : "Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah (yang kecil), niscaya ia akan melihat pahalanya (balasan dari kebaikan itu)". Begitu pula sebaliknya bagi siapa yang mengerjakan keburukan walaupun sebesar zarrah, niscaya akan melihat balasan dari keburukan itu. Kebaikan dibalas kebaikan dan keburukan dibalas keburukan.

Dalam ayat lain surat Al-Mu'min atau surat Ghafir ayat 40 yang artinya : "Barangsiapa yang mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatannya itu. Dan barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab".

Dari ayat di atas sudah jelas bagi orang beriman melakukan amal saleh pasti dibalas dengan kebaikan dan tempat kembalinya surga. Dan bagi yang melakukan keburukan balasannya siksa dan tempat kembalinya neraka.

Lantas bagaimana jika seseorang menghadiahkan pahala kepada orang yang sudah meninggal? Misalnya kita membaca surat Yaasiin atau kita bersedekah dan meminta kepada Allah agar pahalanya diberikan kepada orang yang meninggal  apakah kepada Ibu atau ayah, kerabat atau teman, apakah pahalanya sampai? Kaum Ahlussunnah wal-jama'ah berkeyakinan bahwa hal itu boleh dilakukan dan orang yang diberi hadiah pahala mendapat faedah di akhirat.

DALIL-DALIL

1. Dalam kitab hadis Fathul Bari dijelaskan, yang artinya :

"Dari Ibnu 'Abbas ra, beliau berkata : bahwasannya seorang wanita dari suku Juhainah datang kepada Nabi Muhammad SAW, lalu bertanya : Bahwasannya Ibuku bernadzar akan naik haji, tetapi ia meninggal sebelum mengerjakan haji itu, apakah boleh saya menggantikan hajinya itu? Nabi menjawab : Ya boleh, naik hajilah mengganitkan dia" (HR. Bukhari dll).

Dari hadis di atas dapat dipahami bahwa pahala amal haji yang dikerjakan oleh seorang anak boleh dihadiahkan kepada Ibunya sehingga hutang nadzar ibunya terbayar. Begitu pula jika seseorang mempunyai hutang dan belum sempat dibayar karena meninggal, maka orang lain boleh membayarnya, hingga orang yang berhutang itu bebas dari hutangnya. Bukankah hal ini bermanfa'at bagi orang yang sudah meninggal???.

2. Dalam hadis Imam Abu Daud, yang artinya :

"Dari Ibnu 'Abbas, bahwasannya Nabi Muhammad SAW mendengar seorang laki-laki membaca talbiyah (dalam ibadah haji) "Labbaika 'an Syubrumah" (Ya Allah, saya perkenankan seruan-Mu untuk mengganti Syubrumah). Lantas Nabi SAW bertanya kepada orang itu : Siapakah Syubrumah itu? Jawabnya : "Saudara (karib) saya". Nabi bertanya lagi : "Apakah kamu sudah mengerjakan haji untukmu?" Orang itu menjawab : "Belum". Nabi berkata : "Haji dulu untuk dirimu, kemudian baru menghajikan Syubrumah"

3. Dalam Hadis Muslim ketika Nabi Muhammad SAW akan berqurban dua ekor kibasy putih, yang artinya :

"Dengan nama Allah, Yaa Allah terimalah (kurbanku) dari Muhammad, dari keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad (HR. Imam Muslim).

Pengarang Kitab Bariqatul Muhammadiyah mengomentari hadis ini, yang artinya : "Nabi Muhammad SAW memberikan pahalanya kepada umat beliau. Ini berarti pelajaran dari Nabi SAW bahwa amalan orang lain bisa memberi manfa'at kepada orang lain. Mengikuti ajaran dan petunjuk Nabi ini adalah suatu perpegangan dengan tali yang teguh".

4. Dalam hadis Muslim, yang artinya : "Dari Ummul Mukminin Siti 'Aisyah ra, beliau berkata : Bahwasannya Nabi SAW berkata : "Barangsiapa yang meninggal sedang ia berhutang puasa, maka walinya boleh menggantikan puasanya itu ".

Berkata Imam Nawawi dalam mengomentari hadis ini : "Yang dimaksud dengan wali di sini ialah karib-kerabat".

Berkata Imam Nawawi : "Menurut madzhab kita (Madzhab Imam Asy-Syafi'i) adalah sunah hukumnya bagi wali untuk membayar hutang puasa orang yang telah wafat. 'Ulama-'ulama salaf banyak yang berpendapat begitu, seperti Hasan Al-Bisri, Thaus, Zuhri, Qutadah, Abu Tsur dan lain-lain".

5. Dalam hadis Imam Tirmidzi, yang artinya : "Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata : Berkata Rasulullah SAW : "Diri seseorang tergantung kepada hutangnya, sampai hutangnya itu dibayarkan".

Hadis ini menyatakan bahwa orang yang meninggal punya hutang belum bebas kalau hutangnya belum dibayar oleh ahli warisnya atau kerabatnya. Ini berarti amalan orang hidup bisa menolong orang yang sudah mati.

6. Dalam hadis Tirmidzi, yang artinya : "Rasulullah SAW berkata : "Barangsiapa yang disembahyangkan oleh 3 shaf, maka wajib baginya mendapat ampunan".

Dari hadis ini jelas bahwa orang yang meninggal apabila dishalatkan oleh orang sebanyak 3 shaf, maka si mayit berhak mendapat ampunan. Shalat ini dilakaukan oleh orang yang hidup, tapi si mayit mendapatkan pahala karenanya, bukankah ini menyatakan bahwa orang hidup bisa memberi manfa'at kepada orang yang mati???

7. Dalam hadis Imam Tirmidzi, yang artinya : "Berkata Nabi Muhammad SAW : "Setiap orang Muslim yang meninggal, maka dishalatkan oleh suatu kumpulan ummat yang sampai bilangannya 100 orang, kalau orang ini memberi syafa'at (bantuan) niscaya yang meninggal itu akan mendapat syafa'at".

8. Dalam hadis Muslim, yang artinya : "Seseorang mayat yang dishalatkan oleh sekumpulan ummat Islam yang sampai hitungannya 100 orang, yang seratus itu bisa memberi syafa'at kepada mayat".

9. Dalam Hadis Abu Daud, yang artinya : "Seorang Muslim yang mati dan disahalatkan oleh 40 orang muslim yang tidak mempersekutkan Allah, maka orang 40 itu bisa memberi syafa'at bagi yang mati"

10. Dalam hadis Tirmidzi, yang artinya : "Dari Ibnu 'Abbas, bahwasannya seorang pria bertanya kepada Nabi SAW : "Yaa Rasulullah, bahwasannya Ibu saya telah meninggal, adakah manfa'at untuknya kalau saya bersedekah untuknya?". Nabi menjawab : "Ya". Lalu orang itu berkata : "Sesungguhnya saya mempunyai sebuah kebun, dan saya minta kesaksian engkau bahwa kebun saya itu telah saya sedekahkan untuk ibu saya".

11. Dalam hadis riwayat Muslim yang artinya : "Dari Mi'qal bin Yasar, berkata Nabi Muhamamd SAW : "Bacakanlah surat Yaasiin untuk orang yang mati".

Dari hadis ini jelas bahwa pahala orang yang membaca surat yasin bisa dihadiahkan kepada orang yang sudah mati.

Dalam hadis lain riwayat Imam Bukahri dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah melewati dua kuburan orang yang disiksa, yang satu karena tidak bersuci dari buang air kecil, dan satunya lagi tukang adu domba, lantas Nabi SAW mengambil pelapah kurma dan dibelah lalu ditanamakan ke dua kuburan itu. Para shabat bertanya : "Ya Rasul kenapa dibuat begitu?", Nabi menjawab : "Mudah-mudahan keduanya dapat meringankan siksaanya selama belum kering".

12. Dalam hadis riwayat Muslim yang artinya : "Apabila manusia mati, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara : 1. Sedekah jariyah, 2. Ilmu yang bermanfa'at, 3. Anak saleh yang mendoa'akan kedua orangtuanya.

Dari hadis ini orang yang mati tentu amalnya terputus, tapi ada pahala yang mengalir yaitu sedekah jariyah, misalnya orang yang mati pernah memberi uang untuk pembangunan Masjid, selama masjid itu dipakai maka pahalanya terus mengalir kepada orang mati, atau orang seorang anak bersedekah dan pahalanya diberikan kepada orang mati, maka inipun pahalanya mengalir. Kedua Ilmu yang bermanfa'at, kita kasih contoh para 'Ulama yang telah banyak mengarang kitab yang bersisi Ilmu, lalu kita pelajari dan kita amalkan isi kitab tersebut, maka pahalanya terus mengalir kepada pengarang kitab tersebut karena memberikan manfa'at kepada banyak orang. Yang ketiga anak yang saleh yang mendoa'akan, dan anak di sini bukan hanya anak kandung yang mendo'akan kepada orang tuanya saja, bisa kepada sahabatnya, tetangganya atau kepada siapa saja.

Kesimpulan menurut Fatwa Imam Asy-Syafi'i ra, 

1. Bahwa pahala do'a, sedekah, wakaf, dapat dihadiahkan kepada mayat dan sampai kepadanya.
2. Pahala bacaan Al-Qur'an, ada fatwa Imam Asy-Syafi'i yang mengatakan sampai dan ada pula perkataan beliau yang mengatakan tidak sampai, akan tetapi perkataan yang kedua ini dha'if (lemah). Lihat Kitab I'anatuth-Thalibin
3. Kebanyakan sahabat Imam Asy-Syafi'i berpegang kepada perkataan yang pertama, yaitu sampai pahala bacaan, sama juga dengan do'a, sedekah dan lain-lain. Pendapat inilah yang dipegang dan diamalkan dalam lingkungan Madzhab Imam Asy-Syafi'i sekarang.

Agar pahalanya sampai maka niatkanlah untuk si mayat dan mintakan kepada Allah agar pahalanya disampaikan.

Ada pula orang yang tidak percaya bahwa pahala itu bisa dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal, mereka mengemukakan dalil yaitu dalam surat An-Najm ayat 39 yang artinya : "Dan bahwasannya manusia tidak akan mendapat (pahala) melainkan dari usaha yang telah ia kerjakan".

Jawaban

Ayat dalam surat An-Najm ayat 39 ini terjadi pada Syari'at Nabi Musa dan Nabi Ibrahim as, bukan syari'at Nabi Muhammad SAW. Dan syari'at yang berlaku sekarang adalah syari'at Nabi Muhammad karena kita umat Nabi Muhammad SAW. Maka dalam ayat ini seharusnya dibaca dari ayat 36-39, karena jika dibaca dari ayat 36 jelas sekali bahwa ini adalah syari'at Nabi Musa dan Nabi Ibrahim as.

Di dalam Tafsir Khazin dikatakan tentang penjelasan ayat ini yang artinya : "Adalah yang demikian itu untuk kaum Ibrahin dan Musa, dan adapun bagi umat ini (umat Nabi Muhammad) maka mereka bisa mendapatkan pahala dari usahanya dan dari usaha orang lain".

NOTE

Bagi orang yang suka membaca Hadharah/hadiah silakan saja baca, kita meminta kepada Allah agar pahalanya disampaikan kepada orang yang sudah meninggal, tapi jangan menjelek-jelekkan orang yang tidak suka membaca hadharah. Begitu pula bagi yang tidak suka membaca jangan menjelek-jelekkan orang yang suka baca, kita saling menghargai. Agar umat Islam ini tetap bersatu, jangan karena perbedaan menjadikan perpecahan.

Wallahu A'lam

0 Response to "HADIAH PAHALA"

Post a Comment